jero oh jero
- saya : utari beliin tempe doong.
- utari : ga suka. (tiis sambil ngambil gorengan)
- saya : ih? beliin tempe dong utari.
- utari : ga suka.
- saya : hah?
- utari : ga suka tempe.
- saya : ih.. beliin.. tempe..
- utari : ga suka.
- saya : (keluar kopsis manyun)
si miskin marcella
- sela: jadi ya bla bla bla...
- dwiky: tapi kan bla bla bla...
- yuni: nah itu teh bla bla bla...
- sela: ya, ada yang mau nanya lagi?
- marcella: *ngacung*
- sela: ih mar nanya! mar mau nanya apa?
- marcella: kenapa sih ada orang miskin?
- anak anak: ...
enaaam!
- guru: ya ada berapa anak di kelas ini?
- saya: ENAAAAM!
- anak-anak: hah? *melong ke saya yak*
- zana: apa kamu dhir?
- sela: naon ih si dhira ujug ujug.
- saya: eh apaan gitu?
- zana: di sini ada berapa anak?
- saya: oh. *membenamkan wajah ke jaket*
“Thank you, My Lord! I will.. will.. will say sorry for all who have been beat by me.”
— Pebriyanto.
“It’s just not a strange name for me. It reminds me of my right hand. Left hand.”
— Rengga Faishal Afghani.